<< October 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Aug 11, 2007
*** BUKA DONG ***

Mau tau banyak tentang gue, teman teman gue, liburan gue, sobat sobat gue, keluarga gue, dan calon bini gue hehehe...buka dong Multiply gue dan kasih koment ya. Tinggal klik, kalau nggak bisa copy dan paste aja. Nih alamatnya :

www.glensinemart.multiply.com

Gue tunggu ya....


Posted at 12:44 pm by glennyata
Make a comment  

Jul 25, 2006
+++ISRAEL, LEBANON DAN FPI+++

Bete dan sebel dimana mana orang membicarakan invasi Israel ke Lebanon. Sebel bukan karena tindakan Israel, tapi karena berita itu terlalu membawa bawa agama ke dalam kancah peperangan. Entah itu CNN, BBC sampai televisi Malaysia dan Indonesia semua mengangkat tema yang sama, agama, sebagai bagian dari invasi tersebut. Ok Hezbollah adalah komplotan Muslim yang kebetulan berjuang demi negaranya, mereka hanya kebetulan belaka sebagai Muslim.

 

Tapi bukankah ada baiknya jika kita tidak membawa bawa agama dalam perang. Agama mana sih yang mengajarkan perang dan pembunuhan ? Orang orang Israel tidak diajari oleh agama mereka Jews (Yahudi) untuk berperang begitu juga dengan orang Palestina, Lebanon atau Irak yang nota bene mayoritas Muslim untuk berperang. Semua hanya karena masalah situasi dan kondisi negara mereka yang menuntut mereka untuk menjadi seperti itu.

 

Tidak ada jihad yang menyuruh berperang tanpa alasan yang jelas. Israel menyerang bukan karena Lebanon atau Palestina bukan karena agamanya tapi hanya masalah otoritas. Bukankah di Israel ada 17 %  penduduknya yang beragama Islam, disamping 2,1 % beragama Christian, Druze, Catholic dan lain lain.  Walaupun 76 % beragama Yahudi, salah satu agama yang juga disebut sebut dalam Al Qur’an dan Alkitab itu bukan alasan bagi mereka untuk menumbuhkan bibit kebencian pada agama lain. Jadi sekali lagi janganlah bawa bawa isyu agama dalam perang.

 

Sebelnya lagi FPI yang tidak lebih dari tempat pelatihan bibit bibit teroris di Indonesia, justru ikut berkoar mencaci maki Israel dengan mengatas namakan agama ? Invasi Israel terhadap Lebanon hanyalah kepentingan politik mereka, bukan penyerangan agama terhadap agama. Di Lebanon tidak semua penduduknya beragama Islam, hanya ada 60 % yang Muslim, sisanya 40 % ada Christian, Catholic, Yahudi, Maronite, Ortodox, Chaldean, dan agama agama kecil sekte dari agama Christian lainnya.

 

So… jangan juga sangkut pautkan orang Arab dengan Muslim, karena  dari sekitar 300 juta orang Arab di seluruh dunia, ada 24 juta yang beragama Christian, Catholic dan sekte sektenya. Jadi kalau pun kita mengecam Israel itu karena penyerangannya yang membabi buta terhadap masyarakat sipil.

 

Jangan ikut ikutan punya pikiran seperti FPI dong, yang menganggap dirinya seolah olah mendapat sertifikat garansi dari langit bahwa mereka akan masuk Surga. Aku jadinya nggak percaya sama agama, kalau semuanya berpikir begitu. Aku lebih percaya pada kebenaran yang datang dari hati nurani kita.

 

Sekali lagi jangan membawa bawa agama dalam perang, jangan melihat Israel sebagai sebuah agama yang sakit hati pada agama lain, tapi lihatlah Israel sebagai tanah perjanjian yang dalam kitab kitab mana pun memang sudah ditakdirkan untuk selalu bertikai antar sesamanya. Jadi selama bumi belum kiamat, perseteruan di negara yang menjadi pusat tiga agama besar dunia itu, tidak akan pernah berhenti dan selesai...

 

PEACE MAN….


Posted at 05:29 pm by glennyata
Make a comment  

Sep 12, 2004
GAM Aku Datang Ke Negerimu

Pukul 07.50 WIB, pesawat Jatayu Airlines yang membawa saya dari Bandara Polonia Medan, mendarat di lapangan udara Iskandar Muda, Banda Aceh, Nanggroe aceh Darussalam. Tidak ada perasaan gentar sedikit pun ketika telapak kaki saya menyentuh bumi rencong itu. Namun begitu saya keluar dari pintu bandara, puluhan tentara dan Brimob berlalu lalang dengan senjata laras panjang. Di beberapa sudut tampak panser yang dibiarkan berteduh dibawa pohon. Setiap penumpang yang baru saja turun dari pesawat diperiksa dengan seksama, termasuk saya. sebuah pintu detektor ternyata tidak cukup, kami juga digeledah. Perasaan takut saya yang sebelumnya hampir tidak ada, tiba-tiba menyeruak dari jantungku . Kejadian demi kejadian yang banyak diberitakan di Aceh seperti muncul di depan mata saya. Perlengkapan saya yang tidak cukup (tanpa surat tugas) terpaksa membuat petugas menahan saya. Apalagi setelah mereka tahu tujuan saya termasuk dalam daftar daerah paling rawan di Aceh. Saya ngotot agar tetap bisa berangkat ke Langsa dan Peureulak demi tugas. Tapi akhirnya saya menyerah. Petugas menyarankan saya kembali ke Medan dan melanjutkan perjalanan dari ibu kota Sumatera Utara itu. Alasannya selain jarak tempuhnya yang lebih dekat juga relatif lebih aman dibanding harus melalui jalur Banda Aceh-Langsa. Untung saja dua puluh menit setelah saya ‘dideportasi’ masih ada pesawat yang akan berangkat ke Medan. Saya segera membeli tiket. Petugas loket pun melayani saya dengan tergesa-gesa karena bagian boarding sudah selesai melayani penumpang. Lima menit lagi saya berada di loket itu mungkin saya akan tertinggal pesawat dan terpaksa menunggu sore hari. Tidak ada yang ada dipikiran saya hari itu selain harus melunaskan tugas saya dengan baik dan sesuai jadwal deadline yang membuat saya nyaris tak bisa bernapas panjang. Niat saya melihat Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, yang kabarnya megah itu pun pupus sudah. Pukul; 08.25 WIB saya kembali ke Polonia dan tiba disana sekitar pukul 09. 15 WIB. Dengan tergesa-gesa tanpa sempat sarapan karena waktu deadline yang semakin sempit saya mencarter mobil arah Langsa. Kabarnya bisa sampai lebih cepat kurang lebih 3 jam dibanding naik bis yang bisa mencapai 4-5 jam. Sepanjang perjalanan menuju Langsa, perasaan saya tidak pernah tenang. Apalagi begitu kami sampai di perbatasan Aceh-Sumatera Utara. Setiap bis yang melalui tempat itu wajib berhenti. Tanda pengenal mereka diperiksa. Warga Aceh harus menunjukkan tanda pengenal merah putih berbentuk paspor kecil. Saya sendiri mengeluarkan KTP Jakarta saya. Akibatnya saya dicegat dan diperintahkan turun oleh polisi militer bersenjata lengkap. Saya dibawa ke pos penjagaan, seluruh barang saya digeledah termasuk kamera dan tape recorder diteliti. Waktu saya menunjukkan kartu pers, mereka meminta surat jalan saya. "Mau kemana kamu," bentak salah seorang petugas. "Mau ke Langsa, pak," kata saya. "Kenapa tidak bawa surat jalan ? nama kamu tidak saya catat disini jadi kalau ada apa-apa petugas tidak bertanggung jawab karena kamu tidak bawa surat jalan. Berani kamu jalan ?," kata petugas bagian pencatatan. Meski lutut saya sudah gemetar, saya dengan tegas menjawab, "berani, pak," ujarku. "Ya sudah, silahkan jalan," katanya lagi. Dengan senang hati saya pun kembali melanjutkan perjalanan. Namun sepanjang jalan saya terngiang-ngiang ucapan petugas tadi. Apa benar Aceh seseram itu ? pikirku. Sepanjang perjalanan saya perhatikan wilayah Aceh yang subur, di kanan kiri penuh dengan hamparan sawah menghijau dan kebun kelapa sawit. Menjelang siang kami sampai di Kuala Simpang. Konon tidak jauh dari kota kecil itu terdapat gunung yang juga dijadikan markas GAM. Setelah sempat tertidur, sekitar pukul 13.00 WIB, saya sampai di Langsa. Saya langsung menuju RSUD Langsa. Setelah memastikan korban masih berada disana saya pun makan siang. Sembari berbincang-bincang dengan beberapa karyawan rumah sakit, saya menanyakan tujuan saya berikutnya. Setiap kali saya menanyakan daerah itu, setiap kali pula orang meminta saya untuk mengurungkan niat kesana. Sopir mobil yang saya carter rupanya gentar, sehingga tidak bersedia mengantar saya ke Peureulak. Tapi tekad saya sudah bulat. Saya harus sampai disana sebelum jam 15.00. Pasalnya setelah magrib kota itu akan sepi dan sepanjang perjalanan yang ditempuh sekitar 1 jam sangat rawan. Pertengahan Desember lalu, sebuah bis yang melintas di jalan itu diberondong senapan dan menewaskan sopir dan kondekturnya. Saya lantas mencari sepeda motor carteran, tapi tak satu pun yang bersedia. Akhirnya saya ke terminal dan menawar setiap mobil colt (mini bus) yang akan berangkat kesana untuk saya carter. Setelah beberapa kali menawar akhirnya saya bertemu sopir yang kebetulan adalah warga asli Peureulak. Saya pun berangkat. Sepanjang jalan tampak suasana lengang. Beberapa perkampungan yang saya lewati seperti kota mati yang ditinggal penghuninya. Rumah itu kosong dan rusak. Pemandangan itu diselang-selingi dengan tentara dan brimob yang bergerombol di pinggir jalan. Sebagian ada juga yang bersembunyi di balik pondok-pondok yang dipagari karung pasir. Dari bali karung-karung itu menyembul senapan mesin. Sementara disamping gubuk mereka beberapa tank dan panser ditutupi dengan daun kelapa sawit. Benar-benar darurat militer. Semakin mendekat ke Peureulak, suasana semakin menakutkan. Tentara semakin banyak. Bahkan colt yang saya tumpangi sempat dihentikan karena beberapa truk bermuatan berkompi-kompi tentara sedang lewat. Tiba di Peureulak saya langsung melaksanakan tugas saya. Saya ke TKP terlebih dahulu. Sebelum mengambil gambar saya minta ijin dulu ke petugas. Kebetulan saat itu Danramil meninjau lokasi. Salah seorang anak buahnya sempat menegur saya. "Sama siapa kesini," tanyanya. "Sendiri, pak," jawabku. "Sendiri !!!, berani sekali kau masuk kesini, mau cari mati," katanya bernada tinggi. "Nggak pak, saya cuma sebentar ada liputan," kataku lagi. "Ya udah, habis itu lebih baik kau balik sebelum malam. Nanti kamu bisa jadi Ersa kedua, kalau kamu diculik terus ditembak, nanti tentara lagi yang dituduh," hardiknya. Kalimat itu tidak saja menakutkan tapi juga membuat nyali saya hampir padam. Tapi demi deadline, tekad saya sudah bulat. Seperti permintaan petugas itu, saya berhasil menyelesaikan liputan saya sekitar pukul 17.00 WIB. Saya langsung kembali ke Langsa. Sayang, disana tidak ada warnet untuk mengirim berita. Jangankan warnet, wartel saja sudah tutup setelah jam 6. Pilihan saya satu-satunya harus kembali ke Medan.************








Posted at 02:18 am by glennyata
Make a comment